Free Angel ani Cursors at www.totallyfreecursors.com
Indry Wild Blood: TINJAUAN OBJEKTIF NASKAH DRAMA BAPAK KARYA B. SOELARTO

Jumat, 28 Desember 2012

TINJAUAN OBJEKTIF NASKAH DRAMA BAPAK KARYA B. SOELARTO



TINJAUAN OBJEKTIF NASKAH DRAMA BAPAK
KARYA B. SOELARTO




MAKALAH
Diajukan guna melengkapi tugas mata kuliah Apresiasi Drama



Oleh :
                       
Indri Lestari
100210402103
                       



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2012
 
 


BAB 1
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
            Makna kata tinjauan yang penulis gunakan dalam makalah ini adalah pandangan, pendapat (sesudah menyelidiki, mempelajari,dsb) (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Artinya, pendapat yang penulis ungkapkan dalam makalah ini adalah hasil yang didapat setelah membaca dan mempelajari naskah drama Bapak.
            Karya sastra merupakan hasil pemekiran dan cerminan dari sebuah budaya kelompaok masyarakat mana saja yang memiliki kebudayaan, oleh karena itu daloam karya satra banyak menceritakan tentang interaksi manusia dengan manusia dan lingkunganya. Karya sastra juga merupakan salah satu ungkapan rasa estetis dari seorang pengarang terhadap alam sekitarnya.
            Drama tergolong jenis karya sastra disamping puisi dan prosa. Karya drama diciptakan pengarang berdasarkan pikiran atau imajinasi, perasaan dan pengalaman hidupnya. Drama sebagai karya sastra merupakan objek yang terikat pada pengarang, realitas, dan penikmat.
            Kata drama berasal dari bahasa Yunani yang berarti action dalam bahasa Inggris, dan ‘gerak’ dalam bahasa Indonesia. Jadi secara mudah drama dapat kita artikan sebagai bentuk seni yang berusaha mengungkapkan perihal kehidupan manusia melalui gerak atau action dan percakapan serta dialog. 
            Drama yang termasuk dalam karya sastra adalah naskah ceritanya. Sebagai karya sastra, drama memiliki keunikan tersendiri. Dia diciptakan tidak untuk dibaca saja, namun jug harus memiliki kemungkinan untuk dipentaskan. Karya drama sebagai karya sastra dapat berupa rekaman dari perjalanan hidup pengarang yang menciptakannya. Pengarang dapat diilhami pengarang lain, disamping masyarakat, lingkungan, dan alam sekitar. Karya drama merupakan tempat kita masuk ke dalam penyatuan secara spiritual dan humanistic dengan pikiran dan kepercayaan pengarang
            Naskah yang berjudul Bapak merupakan sebuah drama ciptaan B. Soelarto. Drama ini merupakan drama dua babak. Dalam makalah ini, penulis menggunakan pendekatan objektif sebagai pendekatan dalam menganalisis Bapak. Pendekatan objektif merupakan sebuah pendekatan yang menekankan karya sastra sebagai struktur yang sedikit banyak bersifat otonom (Teeuw, 2003: 100). Pendekatan ini mencoba untuk memaparkan suatu karya sastra secara struktural. Oleh karena itu, penulis tidak mengaitkan karya dengan lingkungannya, seperti pengarang dan pembacanya. Penulis hanya membahas perihal unsur-unsur intrinsik yang membangun keutuhan karya, yaitu plot atau alur, latar, tokoh dan penokohan, tema dan amanat.
1.2  Rumusan Masalah
Apa plot atau alur, latar, tokoh dan penokohan, tema serta amanat dalam naskah drama Bapak karya B. Soelarto?
1.3  Tujuan
Mengapresiasi naskah drama Bapak melalui pendekatan objektif.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pendekatan Objektif
            Pendekatan objektif adalah pendekatan yang mendasarkan pada suatu karya sastra secara keseluruhan dan memandang karya sastra adalah sesuatu yang berdiri sendiri. Pendekatan yang dilihat dari eksistensi sastra itu sendiri berdasarkan konvensi sastra yang berlaku. Konvensi tersebut misalnya, aspek-aspek intrinsik sastra yang mmeliputi kebulatan makna, diksi, rima, struktur kalimat, tema, plot, setting, karakter, dan sebagainya. Penilaian yang diberikan dilihat dari sejauh mana kekuatan atau nilai karya sastra tersebut berdasarkan keharmonisan semua unsur-unsur pembentuknya.
            Pada teori objektif juga berhubungan dengan teori ekspresif yang memandang suatu karya seni yang secara esensial sebagai dunia internal (pengarang) yang terungkap sehingga menjadi dunia eksternal (berupa karya seni) yang perwujudannya melalui proses kreatif sehingga menghasilkan suatu karya sastra.
            Telaah struktur tersebut juga harus dikaitkan dengan fungsi struktur lainnya yang dapat berupa pararelisme, pertentangan, inverse, dan kesetaraan. Dalam karya yang lebih luas seperti novel, struktur tidak hanya hadir melalui kata dan bahasa, melainkan dapat dikaji berdasarkan unsur-unsur pembentuknya seperti tema, plot, karakter, setting, point of view. Untuk mengetahui keseluruhan makna, maka unsur-unsur tersebut harus dihubungkan satu sama lain.Kemudian penilaian dengan menggunakan pendekatan objektif juga berarti menilai suatu karya sastra secara objektif, tidak dengan pendapat pribadi (subjektif). Penilaian tersebut dengan mempertimbangkan adanya relevansi nilai-nilai eksistensi manusia yang terpapar melalui jalan seni, imajinasi maupun rekaan yang keseluruhannya memiliki kasatuan yang utuh, selaras, serta padu dalam pencapaian tujuan tertentu atau memiliki integritas, harmony, dan unity dan daya ungkap, keluasan, serta daya pukau yang disajikan lewat texture serta penataan unsur-unsur kebahasaan maupun struktur verbalnya.
2.2 Tinjauan Objektif Naskah Drama Bapak
2.2.1 Plot atau Alur
Plot/Alur adalah jalan cerita atau rangkaian peristiwa yang disusun berdasarkan hukum kausalitas (hubungan yang menunjukkan sebab akibat). Menurut Sudjarwadi (2005), plot atau alur dalam drama tidak jauh berbeda dengan plot atau alur dalam prosa fiksi. Dalam drama juga mengenal tahapan plot yang dimulai dari tahapan permulaan, tahapan pertikaian, tahapan perumitan, tahapan puncak, tahapan peleraian, dan tahapan akhir. Hanya saja dalam drama plot atau alur itu dibagi menjadi babak-babak dan adegan-adegan. Babak adalah bagian dari plot atau alur dalam sebuah drama yang ditandai oleh perubahan setting atau latar. Sedangkan adegan merupan babak yang ditandai oleh perubahan jumlah tokoh ataupun perubahan yang dibicarakan.
Plot atau alur dalam drama dibagi dalam babak dan adegan. Babak dan adegan inilah yang membedakan drama dengan karya sastra lainnya. Drama Bapak karya B. Soelarto berjalan maju. Dalam naskah drama”Bapak” ini, meskipun pada bawah judul tertera lakon dua babak, namun jika dianalisis lebih dalam, seluruh kejadian berlangsung pada satu tempat dan satu waktu. Sedangkan adegan pada drama ini, berlatar ruang tamu sebuah keluarga, awalnya diisi dengan Bapak yang berbicara sendiri mengenai putranya yang baru datang merantau, adegan kedua diisi dengan munculnya Bungsu yang menemani Bapak mengobrol.
            Adegan selanjutnya Sulung datang dan mulai beradu mulut dengan Bapak. Kemudian Bungsu pergi ke luar. Setelah adu mulut itu, Sulung pergi ke kamarnya, Bapak membuntuti karena curiga mendengar suara radio pemancar. Adegan selanjutnya Bungsu kembali ke ruang tamu karena Perwira datang. Kemudian mereka terkejut dengan suara tembakan. Adegan selanjutnya Bapak muncul dengan pistol dan map-map tebal di tangannya. Perwira pergi ke kamar Sulung dan mendapati Sulung mati. Perwira kembali ke ruang tamu membawa bukti-bukti penghianatan Sulung. Bapak sangat kecewa dan Bungsu menangis. Bapak meminta Perwira membawa pergi Bungsu sedangkan Bapak tetap di rumah dengan perasaan bangga sekaligus kecewa.
2.2.2 Latar
Latar atau setting adalah penggambaran terjadinya peristiwa dalam sebuah cerita meliputi tempat, waktu, sosial budaya, dan keadaan lingkungan. Latar mendukung atau menguatkan tindakan para tokoh cerita. Latar memantapkan peristiwa-peristiwa di dalam cerita atau lakon drama. Latar memberikan pijakan cerita dan kesan realistis kepada pembaca untuk menciptakan suasana tertentu, yang seolah-olah sungguh –sungguh ada dan terjadi (Nurgiyantoro, 1995:17).
Latar pada drama Bapak ini adalah sebuah rumah di kota Yogyakarta. Di saat kondisi Negara kacau karena serangan tentara kolonial tahun 1949. Latar percakapan tokoh secara keseluruhan terjadi di ruang tamu. Berikut analisis latar secara umum yang terdapat pada prolog.Drama ini terjadi pada tanggal 19 Januari 1949, sebulan sesudah tentara kolonial Belanda melancarkan aksi agresinya yang kedua dengan meerbut kota Republik Indonesia, Yogyakarta.Tentara kolonial telah pulang siap siaga untuk melancarkan serangan kilat hendak merebut sebuah kota strategis yang hanya dipertahankan oleh satu batalyon TNI.Di kota itulah SI BAPAK dikagetkan kedatangan putra sulungnya yang mendadak muncul setelah bertahun merantau tanpa kabar berita.
Pada bagian lain dijelaskan suasana kota yang dipenuhi aktivitas militer.
Sulung : Hu…uh, kota tercintaku ini sudah berubah wajah. Dipenuhi penghuni berbaju seragam menyandang senapan. Dipagari lingkaran kawat berduri. Dan wajahnya kini menjadi garang berhiaskan laras-laras senapan mesin. Tapi di atas segalanya, kota tercintaku ini masih tetap memperlihatkan kejelitaanya.
Bapak :  Begitulah nak, suasana kota sedang dicekam darurat-perang.
Dengan suasana demikian, juga mendukung konflik dramatik yang berujung pada keputusan Bapak menembak anaknya yang mata-mata musuh. Serta keinginan Bapak untuk tinggal di rumahnya.
Bapak : Tidak! Aku tidak akan pergi. Aku akan tetap di sini. Mereka pasti akan segera kemari. Mereka akan menjumpai jenazah abangmu. Dan, aku akan bikin perhitungan dengan mereka. Pistol ini akan memadailah untuk itu.
Terdengar ledakan bom-bom menggemuruh, bersusul tembakan meriam-meriam.
Bapak  :           Cepat pergilah! Cepat!
Perwira yang telah mengambil barang-barang sitaan, cepat-cepat menarik tangan Si Bungsu. Keduanya berlari keluar, tapi henti sejenak di ambang.
2.2.3    Tokoh dan Penokohan
Tokoh adalah individu rekaan yang mengalami peristiwa atau berlakuan di dalam berbagai peristiwa cerita. Tokoh cerita dan perwatakan merupakan unsur intrinsik yang sangat penting. Tokoh – tokoh dalam drama ini adalah Bapak, Si Sulung, Si Bungsu,Perwira.Dalam drama ini, Bapak menjadi dapat disebut sebagai tokoh utama, melihat keterkaitannya dengan lain yang sangat banyak, mulai awal hingga akhir adegan.
Sulung : Menyesal ya Bapak, rupanya kita berbeda kutub dalam tafsir makna.
Bapak: [……] nak, kaupun tahu aku tidak pernah memaksakan kehendakku pada anak-anakku. Bila ada anakku yang yakin masa depannya ada di daerah pendudukan, akan lebih membahagiakan hidupnya, silahkan pergi. Begitulah bila adikmu mantap untuk mengungsi kesana, silahkan pergi bersamamu. Tapi adikmu dibesarkan dalam alam kemerdekaan, jadi dia tentulah dapat menilai arti kemerdekaan…. Dan kurasa bukanlah soal pernikahannya dengan TNI yang menjadi dasar timbangrasa, timbang hatinya tapi pengertian cintanya pada bumi pusakanya!
Bapak:  Apa saja yang kau temukan disana?........................
Perwira: Sebuah alat pemancar-isyarat radio. Dan yang ku bawa ini……………
Bungsu: Abang!
Bapak  : Tak perlu ia diratapi lagi, nak!
Bapak  :Tidak! Aku tidak akan pergi. Aku akan tetap di sini. Mereka pasti akan segera kemari. Mereka akan menjumpai jenazah abangmu. Dan, aku akan bikin perhitungan dengan mereka. Pistol ini akan memadailah untuk itu.
Dari uraian di atas selain Bapak disebut sebagai tokoh utama bapak juga merupakan tokoh protagonis dilihat dari sisi perjuangannya membela bangsa. Dan dari segi perwatakan Bapak termasuk flat character karena tidak mengalami perubahan nasib hingga akhir kisah. Sedangkan tokoh Sulung merupakan tokoh antagonis karena menjadi lawan Bapak dalam cerita ini. Sulung mengalami perubahan nasib, yaitu dia mati dibunuh Bapak. Karena itu, dia disebut juga sebagai round character. Selanjutnya tokoh Bungsu dan Perwira. Bungsu dan Perwira dikatakan sebagai tokoh pembantu. Bungsu adalah adik Sulung, sedangkan perwira adalah prajurit TNI merupakan tunangannya. Dari segi perwatakan, Bungsu dan Perwira mengalami flat character. Tidak ada perubahan nasib.
2.2.4    Tema
Tema adalah ide yang mendasari cerita sehingga berperan sebagai pangkal tolak pengarang dalam memaparkan karya fiksi yang diciptakannya. Tema merupakan ide pusat atau pikiran pusat, arti dan tujuan cerita, pokok pikiran dalam karya sastra, gagasan sentral yang menjadi dasar cerita dan dapat menjadi sumber konflik-konflik. Dalam naskah drama Bapak ini menyimpulkan bahwa Bapak ingin mempertahankan kemerdekaan bangsa walaupun Sulung menolak dan menertawakannya. Jadi tema naskah drama Bapak ini adalah seorang patriot tentu memperjuangkan kemerdekaan bangsanya walaupun harus mengorbankan segalanya.
2.2.5  Amanat
            Amanat adalah pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang dalam sebuah karya sastra. Amanat naskah drama Bapak ini adalah kita sebagai bangsa yang cinta akan negara kita, harus mempertahankan kemerdekaan tanah air kita dari tangan penjajah walaupun harus mengorbankan segalanya. Hal ini bisa kita lihat dari sikap Bapak yang menembak mati putra sulung yang amat disayanginya tersebut karena Bapak mengetahui Si Sulung adalah mata-mata tentara kolonial, walaupun Bapak sungguh kecewa kepada putra sulungnya itu, namun itu semua Bapak lakukan demi menyelamatkan Negara dari penjajah.
2.3  Apresiasi Tingkat Tiga naskah drama Bapak
              Permasalahan yang diangkat pengarang dalam drama ini adalah adanya perbedaan ideologi antara Bapak dengan Sulung. Bapak dengan kukuh berusaha meyakinkan Sulung untuk kembali mempertahankan kemerdekaan bangsa. Namun karena Sulung telah hidup lama di luar negeri, sulung berpikir praktis dengan mengambil keputusan berdasarkan asas manfaat. Dirinya tidak peduli walaupun menjadi kaki tangan musuh, dan bangsanya musnah asalkan dirinya sendiri selamat.
              Tidak hanya itu saja pengarang juga ingin menunjukkan adanya sejarah pertentangan-pertentangan yang dialami bangsa-bangsa di setiap Negara, termasuk Indonesia pada masa penjajahan. Pertentangan tersebut, dicontohkan pengarang, dialami Bapak dengan Sulung. Bapak dengan keyakinan timur, dan sulung denagn pemikiran barat. Bahkan hingga saat ini, mungkin penjajah tidak lagi melakukan serangan fisik, namun sebenarnya adalah melalui perang pemikiran. Dan penjajahan tersebut telah ada sejak pemerintahan Hindia-Belanda menduduki Indonesia.



BAB III
SIMPULAN

3.1 Simpulan
                   Setelah menganalisis naskah drama Bapak dengan pendekatan objektif, penulis menemukan bahwa tema drama ini adalah seorang patriot tentu memperjuangkan kemerdekaan bangsanya walaupun harus mengorbankan segalanya. Alur drama ini adalah alur maju. Latar pada drama ini adalah sebuah rumah di kota Yogyakarta. Di saat kondisi Negara kacau karena serangan tentara kolonial tahun 1949. Dan amanat dari naskah drama Bapak ini adalah kita sebagai bangsa yang cinta akan negara kita, harus mempertahankan kemerdekaan tanah air kita dari tangan penjajah walaupun harus mengorbankan segalanya.





DAFTAR RUJUKAN

Horison, Naskah Drama Bapak karya B. Soetarto. www.cybersastra.com. [21 Mei 2012]
Nurgiyantoro, Burhan. 1994. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar